Showing posts with label bla bla bla. Show all posts
Showing posts with label bla bla bla. Show all posts

Solo Traveller


Jomblo traveller? Hush. Tidak boleh bilang status. Itu hak asasi lho. Ntar kena semprit satpam, terlepas itu fakta atau bukan. Lagian, istilahnya juga bukan itu. Orang yang kemana-mana sendiri, kerennya disebut solo traveller.

Terus Kita Itu Apa..


Ini adalah cerita hari Minggu, Mei 17, 2015. Dua hari pertama tanggal tua. Iya, tanggal tua. Mendengarnya saja sudah bikin sedih. Jadi, saya sebenernya tidak berencana kemana-mana, tapi sore hari sebelumnya, dapet info jika ponakan ulang tahun. Ah, yasud. Hitung-hitung sebagai penggembira. Siapa tahu juga nanti ada sisa makanan yang sayang jika dianggurkan.

Persiapan pulang tidak ada. Cukup bermodalkan niat, pengen hunting sunrise dan motor pinjaman. Yah, saya mah gitu orangnya. Kan belum punya motor sendiri. Kan bisa gonta-ganti motor, semacam horang kayah. Kan motor tetangga lebih asyik. Kan ada yang mau dipinjem, yang jelas *LOL*

Jadilah terlaksana, hunting sunrise di sepanjang areal persawahan di jalan shortcut. Dan sayangnya berangkatnya kepagian -_- The sun hadn’t even showed up yet, but at least, I found some nice spots. Ya.. terpaksanya, melanjutkan perjalanan sambil menikmati dinginnya pagi. Sepertinya sudah masa transisi musim kemarau. Duingin! Dan hidungku bocor. Untung memakai masker. Gak kelihatan meler dari luar nyahahaha XD (percuma saja sih, cerita di sini juga).

Sunday Morning : What I should do?

Ini adalah saya sewaktu baru saja bangun tidur. Kadang saya ada pikiran, orang kalau baru bangun tidur kan jelek kan ya. Entah itu tidur bentar, ataupun semalaman, tetep saja jelek. Tinggal nanti tingkat jeleknya diukur hahaha..

Nah, saya berasa penasaran, bagaimanakah jadinya jika saya bangun tidur, jeleknya sejelek apa. Kebetulan si laptop cukup mendukung buat lihat-lihat muka terus di kepchur. Lumayan mahal sih ya kemaren belinya -- membesarkan hati sendiri, karena kalau gak saya sendiri yang berbesar hati, siapa lagi? Gak ada soalnya -_-.

Nah, orang jelek di foto itu adalah saya. Baru bangun juga. Kalau saya bilang, tingkat jeleknya rendah sih ya (alias lumayan ganteng? LOL). Jadi gak nambah, di luar rambut saya yang berdiri itu. Aselinya, saya emang 'sejelek' itu sih sehari-harinya.

Nongkrong di hotel : harmonisasi hati dan pikiran


Saya sering nongkrong, baik di cafe maupun di warkop. Tapi, bagi saya, kenyamanan merupakan hal yang utama. Saya orangnya idealis, kalau gak nyaman gak bisa mikir! Yah, soalnya kalau saya keluar nongkrong, kebanyakan sendirian, bawa laptop, coding XD Tapi saya pikir, setiap orang pasti bakal mikir dua kali untuk bisa bertahan di tempat yang gak nyaman. Kalau gak kepepet, gak bakalan dibetah-betahin. It's human nature..

Nongkrong di hotel yogyakarta? I never thought about it. Gak pernah sekalipun kepikiran buat nongkrong di sebuah hotel. Tapi semua itu berubah ketika negara api menyerang, eh, ketika saya mendapat info salah satu hotel bintang 5 di yogyakarta punya cafe buat nongkrong. Adalah warung kopi sidomuncul hotel tentrem yogyakarta. Apa sih yang bakal diragukan dari kualitas pelayanan hotel bintang 5? Tiap ketemu mbak-mbaknya aja, mereka selalu senyum manis.. Uuuuh.. bikin betah XD

Untuk kualitas, jelas prima. Harga? Bersahabat! Eh? Gak salah nih? Saya sempat gak percaya juga sih. Masak iya 'cafe' sekelas hotel bintang 5 harganya nyaman buat anak kos dan mahasiswa. Tapi setelah membuktikannya sendiri beuh.. Jempol 2 masih butuh lebih! Makanannya juga kualitas jempolan. Saya jarang sih, ngakuin masakan enak, karena bagi saya makanan itu cuman ada 2, enak dan ueeenak.. XD Seumur umur, aku belum pernah nemu komposisi makanan yang uhuy seperti di hotel tentrem yogyakarta. Ini tempat cozy banget, sampai aku berasa gak pengen pulang. Ini style saya hahaha.. XD


Alhamdulillah, berkas musik sebesar 5 GB hilang!

25 January 2014, 1:46PM



Saya baru saja selesai memilah dan menghapus berkas musik saya yang telah terkumpul selama ini. Ada lebih dari 5 GB kalau saya tidak salah ingat. Yap, saya menghapusnya. Kalian tidak salah baca. Sebagian orang mungkin menganggap saya konyol, bego atau apalah itu. Tapi ini mengenai masalah prinsip. Karena semuanya bajakan. Ya. Bajakan.

Olahraga Pagi vs Olahraga Sore/ Malam

Seminggu terakhir ini saya mencoba membiasakan diri untuk berolahraga setiap pagi, 2 jam sebelum berangkat kerja. Yah, meskipun cuman di dalam kamar kosan, tapi dampaknya cukup saya rasakan. Enak juga ternyata bisa keluar keringat. Di samping, badan jadi segar dan pegel pegel, mengingat ini merupakan olahraga pertama kali dari sekian lama.. Hahaha..

Terakhir saya olahraga, mungkin setahun lalu. Saya biasanya cuman jogging. Tapi, karena dulu didukung juga jarak yang dekat dengan area yang nyaman buat jogging. Sekarang berhubung pindah kos, dapet yang *ternyata* jauh dari spot jogging, jadilah saya memutuskan untuk senam es-ka-je di dalam kamar aja, mengingat-ingat gerakan sewaktu gojlogan di esemka dulu. Terkadang loncat loncat kecil, lalu dilanjut peregangan, atau kadang kebalik dapet urutan yang bener, peregangan dulu baru dilanjut loncat-loncat kecil.. Yang penting, saya senam dulu.. :D

Indonesia pernah punya propinsi. Sekarang?

Indonesia dulu memang pernah punya propinsi. Berarti sekarang Indonesia tidak punya propinsi? Tidak. Ya,, Anda tidak salah baca. Dan saya tidak salah ketik. Lalu bagaimana dengan yang selama ini sudah kita pelajari bersama? Ada apa dengan propinsi-nya Indonesia? Dicaplok Malaysia-kah? Huss..

 Ini tidak ada hubungannya dengan masalah perpolitikan maupun perpartaian di Indonesia, meskipun kalau mau, bisa saja dihubung-hubungkan. So, balik ke topic, ada apa dengan propinsi?

Important quotes for all typists all over the world


Today, I'm looking for some references about UNION on MYSQL, and one of tab I opened is from stackoverflow.
Here is a quotes I copy from the site :
Too many coders [thom : I read it as typists] try to limit themselves to the functionality of a framework. DONT. use what the framework provides. If it does not have the functionality you seek, then either:
  • Code the functionality you need into a class extension
or
  • Custom spin the code within the framework to suit your needs.
Often, developers try to hammer a square peg into a round hole and wind up doing way too much extra work that really only makes the code complicated. Take a step back and ask why you are using the framework to begin with. It brings structure to an unstructured language. It provide solid reusable foundation to build your application on. It is not intended to be a box to put yourself in and be limited.

I think there is something in it, so that I copy it into this blog. What do you think?

Saya.

Saya memohon pada Tuhan setiap kali habis shalat. 'Tuhan, jadikanlah saya seseorang yang bertanggung jawab'. Seperti biasanya, Tuhan 'tidak menjawab'. Karena saya bukan Nabi atau Rasul. Tapi saya selalu memohon hal yang sama pada Tuhan. Dan sambil menunggu saya menjadi seseorang yang bertanggung jawab, saya menjalani kehidupan saya sehari-hari seperti biasanya.

Tuhan masih belum mengijinkan saya menjadikan saya orang yang bertanggung jawab. Saya masih seperti ini. Ada apakah dengan Tuhan? Ini bukan masalah krisis kepercayaan saya terhadap Tuhan. Saya percaya Tuhan sepenuhnya. It's something different.

***

Another English Post

It's been a long time for the last time I wrote English post. *So what?? Does it matter?* At least, all the words are in English -- with exclusion, whether the grammar is correct or not :D Never mind. I just enjoy it. I mean, I never write a long paragraph in English, but just this blog :D Anyhow, this is my blog. Even if I mixed the language on writing the post, it's OK..

Revealing The Secret

Internet. I can't live without internet, even on writing a (-n English) post. I mostly show off, 'hey,,, my blog has English post' or similar. Kinda prestige :D And its because of the internet, I could translate some difficult words in Indonesian into English. Exactly, I have very very very poor vocabulary. So, Google Translate is my best friend ever after (and I'm believe it's everyone's secret too :D). Just still don't get it when people is lauding me with something "Thank you, you're like my walking-dictionary (mobile dictionary)" or bla bla bla.. Just often thinking of their reaction : "poor 'em.., never realized Google Translate".. :D

The other reason of why I am writing a post in foreign-language is, I'd like to hide some facts/ emotions inside the sentence.. Common Indonesian people are lazy (read : not-interested) on English post. And I use it well :D Read it or leave it 8) Something like, "Hey,, it's your fault to not understand it". I mean, English is global language, isn't it? But, if the case is they're not interested because it's my post, just dunno. Don't care so much. :D

Another point, hey, I'd like someone outside Indonesia, could comment on my blog. At least, that's the way I go-international :D

So,, that's it :D

Menghilangkan Kantuk ala Saya

Sebelum masuk ke topik, ijinkan saya memberikan sedikit preamble terlebih dahulu. Kali ini, saya akan menyajikan sebuah posting yang menggunakan per-saya-an. Sekian.

Mengantuk? Sepertinya bukan barang baru lagi bagi kita. Semua orang pasti mengalaminya. Dan mengantuk yang akan dibahas di sini bukanlah sembarang mengantuk. Ini perihal mengantuk ketika di tempat kerja.

Nah, posting ini akan menjadi saaaangat special, mengingat yang akan menjadi nara sumber adalah saya sendiri, the best sleepy head. Sekali lagi, batasannya adalah mengatasi rasa kantuk di tempat kerja. Mengingat saya kurang bisa menahan kantuk kalau sudah di kosan (di luar jam kerja atau lebih tepatnya di jam jam istirahat di kosan).

Mari disimak..


Ceritanya,, Ballpoint Gue (Gak Jadi) Ilang

*Posting di-update, update-an ada di paling bawah*
Mari kita mulai sesi per-gue-an

Ilustrasi aja, gue cari yang mirip
aselinya gak dapet #pffft
Waktu menunjukkan pukul 5.52 PM sewaktu gue ngelirik jam di pojok kanan atas laptop *mulai nulis pos ini*. Pas Maghrib. Dan,, tuit gue di Twitter udah jadi rentetan panjang dengan tema : 'Ballpoint gue ilang'! Oh #uwow! 

Sedari tadi pagi, gue udah mulai nih kedutan di mata kiri kelopak bawah. Hampir seharian mata gue itu kedutan. Heh,, tuh yang belakang kenapa pada bisik-bisik? Gak tau kedutan itu apaan yak? Cari dah noo di Gugel. Gue baru males jelasin. Baru bahas 'ballpoint gue ilang' ini.. Sibuk! Perihal ada hubungannya pa kagak, gue gak tau dah. Gue cuman ngasih informasi ajah.. Tapi gue ada referensi menarik ini dari detik health perihal kedutan.

Gak Tau Mau Dikasih Judul Apa

Thu Mar 29, 2012 : 3.04 AM (le moco : Kemis 29 Maret 2012 jam 3.04 esuk)
Tidak ada yang lebih menyengsarakan *paling tidak, saat ini, dengan sedikit di-hiperbola-kan* daripada terbangun pada dini hari, merasa sangat haus dan dilanjutkan dengan rasa lapar yang menggila dan tanpa ada makanan.. Setidaknya seperti itulah yang saya alami *krucuuuk*

Hus.. Hus.. Diem! *talking to my stomach*

Dan sepertinya perut saya tidak mau diajak berkompromi. Pemilihan avatar di samping pun tidak membantu bahkan malah memperparah rasa lapar ini. Maksud saya, mau saya tipu gitu.. Rasa sakit aja bisa disembuhkan dengan sugesti 'obat', masa rasa lapar tidak bisa. Dan pada kasus saya ini, saya ternyata kurang bisa mengatasinya. Yah, maklumlah, frekuensi tipu-menipu perut baru kali ini.. Mungkin harus lebih expert lagi, mengingat jam terbang saya yang terlanjur lama untuk masalah 'urusan perut kok dilawan'..

Mie Goreng? Penipu!

Saya masih punya beberapa stok mie Sed**p goreng sebenarnya (saya yakin para pembaca yang budiman dan baik hatinya, rajin menabung dan tidak sombong ini bisa menerka mereknya..) . Cuman saya baru tidak mood. Mie adalah makanan alternative bagi saya. Dan bila belum terlalu perlu ke 'alternative', tidak lah.. Yang normal-normal (baca : konvensional, umum) aja dulu.. Lagian, saya eneg juga kalo bikin mie goreng. Banyakan ditipunya!

Plong

28 Maret 2012, 19.45 PM (waktu postingan ini ditulis bertempat di Sekar Kedaton, Yogyakarta)
Alunan lagu 'Kangen' yang dipopulerkan dulu oleh Chrisye yang di nyanyikan ulang oleh Ibu Dine, mengalun *halah bahasanya lho* memecah keheningan petang menjelang larut. Diteruskan alunan lagu 'Gereja Tua' yang dinyanyikan oleh Ibu yang-saya-tidak-tahu-namanya.. Ah, sudahlah.. dinikmati saja huehehe..

Entah, hati saya baru senang rasanya :D Rasanya 'mak-plong' gitu.. Jadi gini,, Siang tadi per hari ini, saya ikut *katakanlah* pameran kesehatan *kurang-lebih-begitu*.. Dan hari ini pula, team pertama yang ke Papua berangkat. Tengah hari, ada kabar dari facebook dan sms *entah kemana si 'angin' kok udah ndak mengantar kabar lagi; mungkin karena sudah ketinggalan jaman*; kalau saya gak usah jadi pergi saja..

Sontak, saya langsung #yay lah.. :D Bisa dibayangkan pikiran saya langsung #pfuih *lega* Pikiran saya kemaren kemaren yang berkecamuk mengenai apa-dan-bagaimana tentang pernaikan pesawat *lagi-lagi yang jadi bahasan ini* hilang sudah..

English vs Javanese : Which one is interesting?

It's been a while to me for not updating this blog. Yeah, actually spending 2 hours (at least) of my time is enough for just writing a post. But you might be called me 'a-moody-person', a-quick-change-of-mind-man.

Enough with the apology-thing. This time, I would like to compare English with Javanese. Java is an island in Indonesia, with the most populous island in Indonesia and even the world (based on Java's explanation on wikipedia).

I am a Javanese; and I'd like to share about my language; partial, just for example. I got these phrases from  a post by Arif Setiawan in a group where we both subscribed. Unfortunately, he said if the source is 'compiled from many other sources'.. So, I didn't find yet the original source. But it's not the point. What I'd like to say is the Javanese is much simplier than English! Of course, in this case, it's just for-refreshing-purpose, since I thought these are just Javanese' phrases that difficult to be translated into English with only one word..

So, here they are! Phrases that prove if Javanese is simplier than English..

The Secret of WGET : Keampuhan WGET

Siapa yang belum kenal sama wget, cung!
Apa itu wget? Buat apa? Emang penting? Kenapa wget?
Sabar.. Semua itu akan saya bahas di sini.

[Asal mula]
Friday. January 13th, 2012
Nothing wrong in that date. Menurut takhayul Barat, angka 13 merupakan angka sial. Apalagi harinya Friday. Takhayul Barat meyakini angka 13 adalah angka sial dan Jum'at adalah hari jelek. Lagi-lagi takhayul, jika dua hal tersebut bertemu jadi satu, berarti #uwow. Tapi nyatanya ndak tuh..

maaf mas, nyela.. Ini hubungannya sama wget apa ya?
#Grrr... Diam dulu to. Ini baru pemanasan alias warming-up. Ntar akhirnya juga nyampe ke intinya. Sampai mana tadi? Umm.. *mikir*

Jadi, di Friday 13th ini saya malah mendapatkan keberuntungan. Salah satu diantaranya adalah saya dapet laptop baru dari pak bos Albert Pratama #yay. Singkat cerita, tuh laptop saya install-i Linux Mint 11 "Katya". Bedanya dari versi yang di laptop saya yang satunya ataupun yang di PC yang di kosan, terletak pada architecture-nya. Yang ini 64-bit bo'.. Jadinya, gak cocok deh dengan koleksi software yang saya punya.

Mati Ledeng : Penyiksaan Tersendiri

Mati ledeng? Terdengar agak aneh --istilah saya punya soalnya itu-- mungkin ya? Kurang lebih artinya sama seperti tulisannya. Terus terang, selama hidup di Jogja, saya baru pertama kali ini mengalami pengalaman 'mati ledeng'. Dan itu tidak kalah menyiksanya bila dibandingkan dengan 'mati listrik'! Ndak percaya? Boleh dicoba ke kosan saya di daerah Muja-Muju. Sampai tulisan ini ditulis pun (jam 3.50 AM dilappie), keadaan masih sama seperti waktu saya balik kerja kemaren sore jam 7.30-an PM. Bahkan masi sama juga keadaan waktu itu dari keadaan sekitaran jam 9 AM, sewaktu ledeng kurang lebih dalam status sakaratul-maut-nya (kurang lebih begitulah cerita dari Bu Kos yang sudah sedikit didramatisir).

[Curhat] Perjalanan Panjang Untuk Sebungkus Nasi Uduk

ilustrasi
Postingan untuk judul ini sebenernya udah lama sekali tersimpan sebagai draft :D Cuman saya memang rada rada males untuk update blog. Keinginan sih ada, tapi ketika udah nulis, baru dapet berapa baris, keburu mikirin yang laen. Pas balik mau menulis lagi, dah gak mood. I just having a 'wild mind' I think. Areare*1..

Saya kebetulan penikmat nasi uduk. Tapi dasar emang rasanya enak sih :D Jadinya ya, suka. Tapi ndak sembarangan sekedar judul 'nasi uduk', kayak yang biasa dijual 'bungkusan-ready' di pinggir-pinggir jalan setiap pagi yang bisa ditemui hampir di setiap sudut Jogja. Saya ndak suka itu. Rasanya asal-asalan. Mahal lagi, kalo diitung-itung. Bayangin aja, seporsi Rp 2.500 untuk makanan yang segitu. mending kalo enak..

[Preambule]
Sebenernya, saya ada langganan spot nasi uduk di pojokan UTY Fak. Ekonomi. Cuman saya terakhir ke sono itu sebelum puasa. Giliran 2 bulanan lebih setelah lebaran, saya ke sana lagi (kangen ceritanya), eh udah ndak ada. Mbak-mbaknya yang jualan nasi uduk ndak ada. Biasanya gerobak/ etalase (thom, yang bener gerobak ato etalase nih?? Ditimpuk reader tau rasa lo..)  —baca : 'etalase' aja yah, ada di depan rumah mbak yang jualan, ndak ada. Buat mastiin, saya udah 3 kali ke sono (lewat sono, sambil liatin masi buka ndak), begitu terus. Jadinya, saya simpulkan deh, mbak-mbaknya yang jualan udah tutup #huwaaa #tega #galau #halah.

Kumpul-kumpul

Jadwalnya, hari Kamis 9 Oktober 2011 kemaren kami (saya dan bos saya, Mas Albert) pergi ke daerah Klaten, tepatnya rumah rekanan pak bos, Pak Dhe Jojok (ke depannya akan ditulis dan dipanggil Mas Jojok saja) — the one who 'mbaureksa' Simpus Jojok. Rencananya waktu itu, kami bersama sama dengan Mas Jojok, Wahyu, Mas Pur (nama lengkapnya siapa ya?), Mas Beck (ini nulisnya bener gak?) sama Mas Uun, akan mengetes aplikasi yang dikembangkan bersama. Final test ceritanya. Wal hasil, jadilah kami kumpul kumpul. Ini salah satu kesempatan yang jarang terjadi lhoo bagi kami. Dihitung-hitung, sekalian reunilah hehehe..

What a life .. [A story to tell]

Ini merupakan salah satu pengalaman saya yang cukup berharga. Paling tidak bisa 'menampar', memaksa saya untuk lebih ber-bla-bla-bla. Jadi, ini hari apa to? — Hover mouse ke pojok kanan atas. Friday, November 11 2011. Baiklah, berarti 2 hari yang lalu. Rabu sore, 9 November 2011. Waktu itu, sehabis kerja saya buru-buru langsung ke Stasiun Tugu Jogja. Beli tiket kereta, untuk Mbak saya sekeluarga. Ceritanya, udah 2 tahun, — kurang lebih, anggap saja begitu; mbak saya itu gak mudik. Mungkin ambil cuti atau begimana, kemaren bisa pulang. Agak lama juga di udik. Lha wong mampir juga di keluarga besannya di Pekalongan kok. Nah, ketika mau balik Jakarta lagi, minta tolong deh ke saya yang sekalian ada di Jogja buat beliin tiket. Baiklah..

Cerita di Tugu — refer to Stasiun Tugu, biar lebih singkat nyebutnya, saya sekitaran jam 17.30 sudah berada di Pusat Reservasi Tiket. Dapat nomor antrian 46. #yay, dapat nomor kecil. Tapi saya bingung. Saya kok dapat nomor kecil? Padahal di tempat itu orang-orang pada berjubelan (Jawanya : uyeg-uyegan), yang tidak bisa dikatakan sedikit. Apalagi sistem antriannya keren. Di stasiun lain palingan gak ada. Manggilnya pake pengeras suara yang batere itu, dan antrian udah nyampe 600-an...!! What? Ada apa ini? Bikin suasana panas aja. Apalagi nomor tiket saya cuman make lembaran formulir yang buat mesan tiket dan ditulis tangan.