Catatan Perjalanan ke Solo

Cukup lama saya tidak menulis di blog ini. Lagi lagi dengan alasan kesibukan offline, hahaha.. Padahal memang iya. Atmosfer perblogan sudah berbeda sih, ya, bila dibandingkan dengan yang dulu. Sekarang lebih malas *jelas* dan lebih banyak menghabiskan konsentrasi & waktu di lain tempat hihihi.

Kembali lagi ke judul. Beberapa waktu lalu saya melakukan trip kecil ke Solo. Meskipun hanya berjarak belasan kilometer, frekuensi saya pergi ke Solo masih bisa dihitung dan diingat-ingat. Eh, ini sendiri ya.. Sebelumnya masih nebeng, sehingga bisa dibilang 'buta-jalan'. Annggap saja belum :D Perjalanan saya kemarin masih dalam rangka kunjungan kerja. Ada client kantor yang berdomisili di Solo yang membutuhkan uluran tangan seorang tukang ketik (baca : programmer). Kalau tidak demikian, buat apa saya ke sana? :D Saya adalah tipe orang yang cukup senang dengan berdiam di kamar.

Perjalanan saya dimulai dengan survei sore sebelumnya, dengan mendengarkan arahan Pak Bos, pesan-pesan dari Mbah Google, dan petunjuk Foursquare, Google Maps, dan wikimapia. Cukup membantu. Paling tidak saya tahu arah kemana saya harus pergi. Paling tidak kalau kesasar semoga tidak terlalu parah. Toh, di hape juga ada GPS.

Rute

Saya rencana menggunakan kereta Pramek (Prambanan Ekspress) untuk tujuan saya ke sana. Selain enakan, tidak perlu berpanas-panas ria dan membaui kentut bis & truk, selain itu saya bisa mengganti tidur gegara persiapan pergi yang otomatis lebih pagi.Ternyata untuk jam pagi, adanya kereta Sri Wedari bukan Pramek. Tujuannya sama sebenarnya, hanya beda nama. Perjalanan pertama pergi ke Solo, sendiri, dengan kereta (masih dalam rangka ke client) saya awali dengan usaha tetap membuka mata lebar lebar agar tidak mengantuk, karena semalam saya belum dapat tidur. Bukan apa-apa. Bukan karena grogi lalu tidak bisa tidur. Ada beberapa pekerjaan kecil yang harus saya selesaikan.

Perjalanan ke Solo dari Yogyakarta bisa dimulai dari beberapa stasiun, salah satunya adalah Stasiun Kereta Maguwo, yang bersebelahan dengan bandara Adi Sucipto, dan saya memilih point ini karena paling dekat dengan kosan. Bisa juga via Stasiun Lempuyangan. Dari kosan tidak sampai 5 menit menggunakan motor Astrea butut adik saya *saya tidak punya soalnya*. Tiket kereta hanya satu harga dalam satu waktu. Perjalanan pertama dapat harga 20k, karena kereta menggunakan AC. Bisa dibayangkan, pagi-pagi, suhu Yogyakarta dibawah 30, make AC! Asli, saya tidak bisa tidur malahan waktu itu saking dinginnya. Harga saat perjalanan kedua, saya kena charge 10k. Keretanya tidak menggunakan AC, yang dari segi tampilan luar, agak jelekan sedikit dari yang harga 20k. Interior di dalam juga tidak sekinclong dan seekslusif yang mahalan. Tapi lumrah lah ya.. Ada harga ada rupa. Banget.

Perjalanan kereta beda harga tidak berbeda jauh, kurang lebih 1 jam. Di dalam kereta, tidak bakal dijumpai orang yang berdiri karena tidak kebagian kursi (kalau yang berdiri dekat pintu karena siap-siap jangan ditanya). Penjual asongan juga tidak ada. Tapi seperti kereta bisnis dan eksekutif, biasa ada yang jualan dari pihak intern kereta. Masalah harga, jangan ditanya. Dua kali harga di luar. Untuk penjual makanan dari luar, sudah tidak ada. Itu yang berbeda. Positifnya, terkesan jadi lebih nyaman :)

Dari jadwal, sebenarnya jam 9, sedangkan saya berangkat jam 4.45 AM, siap-siap jam 4, mandi 4.30, sampai di Stasiun Solo Balapan pukul 7-an. Dari jadwal kereta di tiketnya seharusnya berangkat jam 5.40, tapi kereta baru nongol jam 6an. Yah, untuk ketepatan waktu karena orang Indonesia rasa toleransinya tinggi bisa dimaklumi lah ya (kalau molor). Perubahan di manajemen, di mana yang tidak bawa tiket tidak boleh masuk saja sudah termasuk perubahan yang mencolok dan 'uwow' untuk ukuran Indonesia. Mau tidak mau harus ikut kereta pagi, jika mau mengejar ketepatan waktu tiba di client. Apalagi kalau pertama kan musti muter muter (termasuk kalau nyasar) dulu. Kereta berikutnya, berangkat kurang lebih jam 8.30 soalnya. Bakal kesiangan sampai di stasiun Solo, belum lagi acara muter muternya.

Jadwal kereta Yogya-Solo yang berhasil saya abadikan di Stasiun Solo Balapan
Jadwal kereta Solo-Yogya yang berhasil saya abadikan di Stasiun Solo Balapan

Stasiun Solo Balapan

Di Stasiun Solo Balapan saya harus menunggu di lobi stasiun dengan tanpa kerjaan, dari jam 7 sampai jam 8.15. Kesan pertama, biasa saja sih. Toh, kurang lebih sama dengan stasiun Lempuyangan. Saya beli koran untuk mengatasi kebosanan. Eh, di sebelah saya ada cewek bule. Entah pelajar atau apa. Saya mau menyapa rasanya kayak mau ujian pendadaran. Sudah mengumpulkan frase-frase dan menyusun kalimat, tapi keberanian untuk eksyen tetep belum 100%, sampai akhirnya sekitaran jam 8 dia cabut dijemput mobil. Damn :( Sampai akhirnya saya memutuskan untuk cabut juga, lalu pergi ke tempat client menggunakan ojek. Untuk perjalanan yang kurang lebih 5-10 menit, saya musti bayar 15k. Relatif lebih murah sih untuk ukuran tidak tahu jarak, meski udah ditawar 10k (dan gagal). Alhasil, saya sampai di tujuan 8.30 AM dan hasilnya, saya musti menunggu sampai tempat tujuan saya buka jam 9 AM.

Perjalanan kedua, agak beruntung dan berantakan juga. Waktu itu saya berencana mainan laptop, tapi apa daya tidak ada colokan listrik kalau di luar pintu keluar peron stasiun (padahal sudah tidak boleh balik ke area peron lagi kalau sudah gitu). Akhirnya setelah cari cari referensi, di internet dan bantuan Pak bos, saya memutuskan ke KFC Solo Grand Mall, dengan membawa harapan colokan listrik. Dari hasil Foursquare, saya dapat lokasi SGM ternyata cuman dekat dari Stasiun Balapan. Alhasil, saya memutuskan untuk berjalan kaki saja. Waktu itu sih, PeDe-PeDe saja dari stasiun ke luar dengan arahan GPS. Seharusnya cuman kira kira 15-20 menit jalan. Tapi, ternyata saya dapat zonk. Aaaargh.. Kurang ajar bener itu yang pointing lokasi, melesetnya jauh banget -_____-" Satu jam perjalanan menuju SGM karena ketipu. Grrr.. Capek sudah.

Menyusuri Jl. Slamet Riyadi

OK, memang pelajaran buat saya. Dari hasil balik ke cara jaman dulu : bertanya, saya melangkahkan kaki dengan mantap ke SGM. Jangan terlalu percaya dengan Foursquare. GPS-nya sih OK. Tapi koordinat Foursquare, jangan, kalau tidak menguasai medan. Beruntunglah saya bisa menikmati suasana Jl Slamet Riyadi, mulai dari melewati 4 perempatan kalau tidak salah, GOR, Taman Sri Wedari, trus apa lagi yak? *lupa saya* :D  Jadinya baguslah, saya jadi merasa mengenal lebih dekat kota Solo hahaha..

Perkara colokan listrik juga tidak kalah menarik. Sampai di KFC Solo Grand Mall, suasana masih sepi. Kayaknya saya the first customer of the day. Mas dan mbaknya masih sibuk beres-beres. Saya pesan Chicken Porridge waktu itu. Dan seperti biasa, setelah pesan makanan, menanyakan colokan listrik. Dan tidak ada -_____-"

"A.. a.. apah??!" teriakku dalam hati. Perjuanganku dari Stasiun Balapan satu jam tidak membuahkan hasil? *pingsang di tempat pura-puranya*. Ah, sudah lah. Lagian juga udah mepet jam 0 juga. Buru buru saya menyiapkan amunisi untuk ke tempat kerja.

Taxi Motor

Yap. Perjalanan kedua ke Solo saya sudah membawa sederetan nomor penyedia jasa Taxi Motor, meski yang aktif dan valid cuman 1 biji, yang lain ada yang salah sambung atau ndak diangkat -___-. Saya dapatnya dari hasil tanya tanya Mbah Google *andalan*. Kalau di Jogja, bukan suatu hal yang aneh lagi. Cuman gegara di Solo saya ini masih buta, ya maklum. Dan agaknya belum begitu nge-trend ya. CMIIW. Tahu gitu kan saya sejak pertama make jasa Taxi Motor saja. Jujur lebih irit. Lebih murah dari pada tarif dari abang tukang ojek yang sekenanya pasang tarif. Kalau ojek yang kali pertama kena charge 15ribu, yang pas make Taxi Motor cuman kena charge bensin 1 liter. Nah lo.. Tapi, emang motor bapaknya Taxi Motor kemaren cenderung lebih butut sih. Tapi tetep,, menang tarif 8) Sebagai anak kos, saya harus lebih mementingkan tarif murah #eh

Pulang Jogja

Jogja memang istimewa. Saya selalu ingin balik Jogja kalau di Solo (ya iyalah, tinggalnya di Jogja). Perjalanan tetap menggunakan kereta. Kunjungan pertama saya menggunakan becak yang saya dapat dari depan tempat kunjungan saya. Bapak tukang becaknya tidak mau pasang tarif -__-" Ya, udah kasih 20ribu selembar. Dan kayaknya kebanyakan. Bapaknya seneng banget kayaknya :3 

Kali kedua, saya pake jurus telpon Taxi Motor hahaha.. Gila aja kalau make becak lagi. Hitung-hitungannya dari Stasiun Solo Balapan aja kalau make ojek biasa cuman 15ribu, ini ke Stasiun Solo Jebres yang notabene lebih deket ongkosnya 20ribu -____-" Kalau make Taxi Motor cuman 1 kali harga bensin *tetep juara*.

Dari Solo Jebres ke Jogja, adanya kereta Pandan Wangi yang non-AC, harga tiketnya juga sama dengan Sri Wedari non-AC, 10ribu dengan jam keberangkatan 5PM. Dari client jam 3, masih ada waktu 1,5 jam di dalam peron (yang lainnya dipakai buat muter muter, sholat, antri tiket). Lumayan bisa buat tidur hahaha.. Pernah sampai tidur pules banget, dibangunin petugasnya ketika ada kereta ekonomi berhenti. Tas laptop saya kan gede, mungkin dikira saya mau perjalanan ke Jakarta atau gimana hehehe.. But, thanks officer for concerning us, the customer. Overall : the services of the PT KAI is thumbs up!

2 comments:

  1. Ini ala2 Backpacker juga ya Mas, seru juga jalan-jalan di Solo :)

    ReplyDelete
  2. hahaha .. baca ini kok jadi geli sendiri. Tom kaya anak hilang di Solo :D

    ReplyDelete

 
my name is thom © 2010